5 Mitos mengenai software bajakan

Kemarin di grup facebook, ada diskusi seru soal software bajakan. Saya pikir terlalu panjang kalau diteruskan di sana, jadi saya coba meneruskan menulis pendapat saya di sini.

computer virus

Banyak yang menggunakan bajakan dengan berbagai alasan. Beberapa diantaranya jadi dipercayai yang lain dan menjadi ‘mitos’. Beberapa yang sering saya dengar, saya tulisan di bawah ini.

Software bajakan mencerdaskan bangsa

Hampir semua pembuat software memiliki license atau harga khusus untuk edukasi. Banyak diantaranya dibagikan secara gratis. Artinya, jika anda pelajar atau dosen yang ingin menggunakannya untuk proses belajar mengajar, dapat menggunakannya secara gratis. Tanpa bajakanpun anda bisa mencerdaskan bangsa.

Ada beberapa yang beralasan bahwa license edukasi sulit didapat. Hanya untuk yang sekolah/kuliah saja. Alasan utamanya adalah software profesional butuh perlakuan yang khusus. Di sekolah punya kurikulum dan tenaga pengajar untuk belajar software tersebut. Kita tidak bisa begitu saja membeli NASTRAN di ITC misalnya, lalu belajar dalam 3 hari dan mengaku pakar simulasi FEA. Untuk mahir sebuah software profesional, anda butuh waktu yang panjang. Mulai dari pengetahuannya, kemampuan penguasaan software, dan pengambilan keputusan.

Dari sisi pengembang software, saya rasa mereka juga tidak ingin ada yang mencoba-coba software dengan mudah tanpa dibimbing tenaga profesional. Banyak diantara mereka ini akan mengambil keputusan software itu jelek. Padahal mereka yang tidak mempelajarinya dengan benar.

Bajakan tidak mencerdaskan bangsa!

Dengan alasan di atas, menurut saya kita bisa bilang ini hanya mitos. Bahkan menurut saya bisa memperbodoh.

Seorang yang hanya dibekali software AutoCAD misalnya, akan berusaha mengoptimalkan software itu. Karena ia tidak dibekali 3ds Max, Photoshop, dan beberapa software pelengkap lain.

Berbeda yang biasa pakai bajakan. Dia akan menginstall semua software populer di komputernya. Lalu mengerjakan di AutoCAD, setelah itu di render di 3ds Max, lalu di Photoshop, dan seterusnya. Biasanya yang terakhir hanya bisa sedikit ini-itu, dan tidak pernah benar-benar ahli di satu software.

Jadi jika ada yang menulis di resume ahli menggunakan software sampai belasan, kalau dia bukan alien kemungkinan besar dia hanya ‘merasa’ ahli.

Software legal itu mahal

Software legal tidak mahal. Ada yang gratis malah. Yang jadi masalah adalah, banyak yang ingin pakainya software ‘A’ atau ‘B’. Padahal banyak yang bisa anda dapatkan dengan gratis atau murah. Misalnya Libre Office sebagai pengganti Microsoft Office. DraftSight sebagai alternatif AutoCAD.

Yang lebih terjangkau misalnya Corel CAD, ProgeCAD, dll.

Software legal itu tidak mahal

Software legal dianggap mahal karena kita belum melihatnya sebagai investasi yang layak. Padahal kita bisa mengeluarkan uang untuk beli ponsel atau laptop dari harga 5-15 juta dengan mudah. Umur hardware paling-paling 2-3 tahun. Setelah itu keliatan jadul atau sudah rusak.

Untuk harga software dengan kisaran itu, banyak yang keberatan padahal umurnya seumur hidup.

Seandainya software tidak bisa dibajak, apakah anda akan memilih mesin ketik daripada beli Microsoft Word? Apakah anda akan memilih meja gambar ketimbang AutoCAD?

Semua pakai bajakan, gak apa-apa kok

Ah, si itu pakai bajakan gak pernah kena razia tuh. Perusahaan itu aman-aman aja. Apalagi perorangan.

Sebetulnya pakai bajakan selalu beresiko. Razia tidak hanya dilakukan untuk memaksa anda beli software asli, tapi bisa juga untuk shock therapy. Kalau ada razia software bajakan ke tetangga anda, minggu besoknya mungkin satu RT atau satu kelurahan akan segera beli software asli dan membuang yang gak perlu bukan? Tentunya anda tidak ingin anda yang kena razia itu…

Gak ada ruginya pakai software bajakan

Apakah anda pernah menggunakan key gen atau sejenisnya? Kalau anda menginstall anti virus yang cukup bagus, biasanya file itu di blok atau malah dihapus. Kalau anda mengirim ke Gmail, maka akan block Google.

Karena file tersebut memang biasanya berbahaya. Mereka tidak menyebarkan software itu dengan gratis tanpa mengharapkan imbalan apapun bukan?

Biasanya software-software itu berisikan malware, yang bisa mengambil data sensitif di komputer anda. Mulai dari email, file, sampai transaksi perbankan.

Selain itu, negara kita termasuk buruk ratingnya dalam pembajakan. Karena itu seringkali diblokir oleh beberapa penyedia layanan online. Misalnya NetFlix dan Spotify, tidak mau melayani Indonesia. Banyak layanan dan pengembang software yang enggan merilis produk mereka di Indonesia.

Sebaliknya untuk hardware, di Indonesia dijual BlackBerry, iPhone, mobil, motor dan semua yang gak bisa di ‘crack’. Sebetulnya menyedihkan kalau gara-gara ini Indonesia dibuat selalu jadi bangsa konsumtif. Dan dibatasi aksesnya ke software produktif.

Beli software cuma memperkaya kapitalis saja

Saya pernah dengar alasan ini. Ada yang tidak terima dan menganggap harga software kemahalan dan hanya memperkaya golongan tertentu saja. Secara logis, setiap perusahaan pasti berusaha mencari profit. Termasuk jika anda membeli smartphone, tablet, atau laptop. Saya tidak mempertanyakan atau menentang logika ini. Mungkin ia memang mempercayainya. Tapi kalau itu alasannya, mestinya ia tidak membeli barang-barang konsumtif dan gadget juga bukan?

Sebenarnya, software sampai terinstall di komputer anda punya jalan yang cukup panjang. Dan banyak yang terlibat di sana. Di perusahaan pengembang software sendiri ada CEO, developer, engineer, marketing, sampai Office Boy dan Cleaning Service. Setelah itu ada distributor atau partner di berbagai negara. Di sana juga ada dari direktur, sales, teknikal sampai driver dan office boy.

Banyak perusahaan dan badan lain yang tidak langsung juga terlibat. Seperti humas (PR), shipping company, storage, pajak dan semua proses diantara developer dan komputer anda.

Artinya membeli software legal juga menghidupi semua orang-orang di atas. Dan menggunakan bajakan memutus rejeki mereka.

Penutup

Apa yang saya tulis di atas adalah murni pendapat pribadi. Tentu tidak semua setuju dengan pendapat tersebut.

Bagi yang ingin berdiskusi dan sharing pengalaman soal menggunakan software bajakan, silahkan kita diskusikan. Lebih baik kalau diskusi ini berkembang menjadi sesuatu yang positif dan dapat berguna bagi semua.

Mungkin saya dan teman-teman lain bisa bantu bagaimana agar anda bisa menggunakan software legal. Alternatif apa saja yang tersedia, dan sebagainya.







  • Boy

    Thanks atas tulisannya mas Edwin. Sangat inspiratif… Dugaan saya (berdasarkan isi tulisannya), mas Edwin sejak awal karirnya adalah application engineer di software reseller/developer…..

    • Terima kasih Boy,

      Saya pertama kali bekerja di konsultan, selama 1 tahun. Lalu kontraktor selama 2.5 tahun. Saya pernah jadi pengguna CAD sebelum mulai bekerja sebagai Application engineer.

  • Analogi yang sangat luar biasa, mas. Terima kasih atas ulasan sekaligus dukungannya untuk menggunakan software legal di indonesia.

  • hafid

    mas Edo kalau pengen tahu price list softwere Original dmn ya linknya? saya masih bingung masalah harganya.ada yg bilang harga autocad harganya 30 jt bnr ga ya? saya ingin memakai sofwere asli karena fatwa para ulama yg menganjurkan pakai softwere asli/ori. thanks responnya

    • Software asli itu biasanya price list nya berbeda-beda untuk setiap negara. Dan juga tergantung promo atau skema pembelian.
      Sebaiknya langsung hubungi reseller saja.
      Dan sebaiknya beli dari partner resmi yang ada di http://autodesk.com/reseller. Jangan sampai sudah bayar mahal, nanti malah dapatnya software aspal ;)

  • deby

    saya bingung kalimat anda tentang bajakan mencerdaskan bangsa…?apakah anda setuu atau tidak?

  • Alfy Maghfira

    kalo kita pakai semua yang berbayar , susah sob.., mahal.., serba premium kesanany juga harus serba premium
    jadi mending pilih yang hasil crack ato bajakan jika buat digunain pribadi masing-masing :)