Kenapa Anda Memilih Software CAD yang Anda Gunakan Sekarang?

Jika anda sudah cukup lama berkunjung ke Tentang CAD, mungkin pernah membaca judul polling alias jajak pendapat yang pernah dibuka di sini. Saya ingin mengulas sedikit tentang hasil pollingnya. Responden yang sudah memilih 56 orang. Hasilnya kurang lebih seperti ini.

  1. Digunakan perusahaan (17 vote – 30.36%)
  2. Yang saya kuasai (15 vote – 26.79%)
  3. Paling Sesuai (9 vote – 16.07%)
  4. Yang Terbaik (6 vote – 10.71%)
  5. Mudah dipelajari (3 vote – 5.36%)
  6. Harga (3 vote – 5.36%)
  7. Lainnya (3 vote – 5.36%)

Hasilnya sedikit banyak mendekati apa yang saya harapkan. Hanya ‘mudah dipelajari’ yang menurut saya agak mengejutkan. Hanya dipilih 5% responden.

Coba kita lihat satu-satu.

Digunakan Perusahaan

Ini yang anda alami sekarang? Ini bagi saya sangat masuk akal. Kadang kita mau tidak mau harus menggunakan software yang dimiliki perusahaan. Meski kita tahu ada software yang lebih baik.

Minta perusahaan ganti software juga gak gampang. Kalau perusahaan beli softwarenya original, harga license itu gak murah. Belum lagi kalau ada 10 user. Ada satu yang minta ganti software, mungkin yang lain pura-pura gak denger. Atau malah menolak dengan tegas. Wah, bisa-bisa anda dikucilkan. Alasan lain? Mungkin perusahaan anda menggunakannya dengan alasan data interoperability. Karena sering nerima dan ngirim file dalam format tertentu, mau gak mau juga harus pake.

Ini kenapa saya percaya bahwa tidak ada alasan untuk merasa cukup dalam mempelajari software. Misalkan anda arsitek. Anda sudah belajar AutoCAD, dan jago banget… nilainya 9 dari 10 lah. Terus saat anda melamar kerja (atau pindah kerja), ternyata mereka gak pake software itu! Mau gak mau, anda tetap harus belajar.

Yang saya kuasai

Ini alasan klasik juga. Beberapa orang cuma mau pakai software itu karena bisanya ya itu. Waktu perusahaan memutuskan untuk beli software CAD, ditawarkan ke anda, anda milihnya itu.

Tapi menurut saya pribadi, biasanya hal ini terjadi pada perusahaan yang CAD-nya memang tidak memegang porsi yang vital. Hanya untukmembuka, edit sedikit-sedikit, atau untuk gambar-gambar sederhana.

Atau perusahaan yang tidak banyak bekerja dengan perusahaan lain. Jadi mau pakai software apa saja terserah.

Paling Sesuai

Saya cukup senang yang milih ini cukup tinggi, masih sesuai dengan perkiraan saya. Paling sesuai biasanya diperhitungkan dengan banyak faktor. Dari feature/kemampuan, data interoperability, reliability, kemudahan penggunaan, harga, dan beberapa faktor lain. Artinya, sudah banyak yang memilih software berdasarkan kebutuhan, bukan hanya karena software itu ‘nge-pop’ alias populer.

Kadang anda hanya butuh software yang sederhana, karena memang pekerjaan anda hanya itu. Tidak ada gunanya anda memilih software yang ‘full-gear’ dan mahal, tapi yang dipakai hanya 10-20% nya saja.

Tapi tidak bijak juga jika anda memilih software yang populer, padahal kebutuhan anda jauh di atas itu.

Yang Terbaik

Mungkin beberapa merasa rancu dengan pilihan sebelumnya. Tapi yang memilih yang terbaik, dalam benak saya, punya visi yang cukup bagus.

Misalkan anda sekarang hanya butuh software 2D drafting. Anda memilih itu karena memang butuh dan murah. Ternyata, beberapa tahun kemudian, anda mulai kebanjiran job, dan jobnya juga makin kompleks. Software itu tidak lagi mampu menangani semua.

Beberapa mungkin punya visi untuk membeli software sebagai investasi jangka panjang. Kalau istilahnya Autodesk, scalable. Untuk pekerjaan simpel sampai kompleks.

Mudah dipelajari

Mudah dipelajari, dan usernya banyak. Meski kedengarannya ‘gak canggih’ alasannya, tapi alasannya cukup kuat. Bisakah anda bayangkan jika user-nya resign, dan sulit sekali mencari user-nya? Mentraining orang baru setiap ada yang resign rasanya gak bijak. Banyak waktu terbuang, dan investasinya jadi mahal.

Biasanya perusahaan seperti ini, pengguna CAD-nya didominasi ‘juru gambar’ alias drafter.

Harga

Harga tentu juga penting. Tapi menurut saya harga harusnya ada dibelakang ‘paling sesuai’. Jika ada beberapa software yang cocok, cukup bijak jika anda menjatuhkan pilihan ke yang lebih ‘murah’.

Mungkin harga tidak terlalu dominan, karena di Indonesia banyak yang belum peduli dengan licensing :)

Lainnya

Alasan lainnya? Ya saya tidak tahu. Dan karena yang milih juga gak banyak, cukup adil rasanya kalau kita anggap dapat diabaikan.

Bagaimanapun, review ini adalah pendapat saya pribadi. Tentu ada yang berpendapat berbeda. Jika anda ingin diskusikan, silahkan :)

  • Susilobroto

    “Mungkin harga tidak terlalu dominan, karena di Indonesia banyak yang belum peduli dengan licensing” –> Jelas aja, karena kalau tidak ada bajakan, pasti di Indonesia yang bisa autocad kurang dari 100 orang, karena gak mampu beli. Apalagi kalau ngumpulin uang buat beli software, begitu uangnya udah terkumpul, udah muncul versi baru yang tampilannya banyak berbeda dengan versi sebelumnya (Autocad 2009), bikin bingung pemula.
    Gak cuma Autocad, tapi org Indonesia yg bisa komputer pasti cuma segelintir. Untuk windowsnya aja udah seharga komputer, belum officenya. Akhirnya cuma bisa dipakai untuk ngetik.

  • http://3d-design-info.blogspot.com/ kholish

    @Edo….

    Review yg bagus :)
    Saya sependapat dengan ulasan edo.

    Menurut saya tidak mengaggetkan bahwa hasil polling 30.36% adalah karena alasan “Digunakan perusahaan”. Dari apa yg saya ketahui tidak banyak yg menggunakkan software 2D/3D di rumah –> di luar kantor. Jadi pakai sofware cad ya hanya pas di kantor. Dibeberapa negara yg mana perorangan sudah mampu membeli software dgn harga puluhan juta dgn kocek sendiri maka ceritanya akan lain. Selaian itu memang di negara tersebut biasanya cukup banyak kontraktor / freelance yg kerjanya bisa dari rumah. Jadi software yg dipakai tidak harus tergantung dari perusahaan. Bisa menentukan kebijakan sendiri.

    Ya ini hanya pendapat saya pribadi, temen2 yg lain silakan sharing…

    -Kholish
    Blog : http://3d-design-info.blogspot.com/

  • http://3d-design-info.blogspot.com/ kholish

    @Susilo…. :)

    Polling ini ini memang untuk end user ( alias yg pakai softwarenya ). Jadi memang harga ga jadi masalah. Tapi untuk corporate saya rasa harga bisa menjadi pertimbangan yg utama. Apalagi management umumnya orang ekonomi yg seringkali hanya memikirkan segi ROI saja….

    Just my opinion…. :)

    -Kholish
    http://3d-design-info.blogspot.com/

  • Dadan

    Menurut saya ketika bekerja kita tidak ada pilihan lain selain harus menggunakan software berlisensi yang dimiliki perusahaan.
    Pada saat kita mau start belajar CAD di rumah, biasanya kita nyari yang populer dan banyak digunakan oleh perusahaan2, dan terus hunting yang bajakan, kalo pake “licence” jelas2 gak akan sanggup beli.

  • http://3d-design-info.blogspot.com/ kholsih

    @dadan….

    Atau bisa juga kita budayakan pakai software yg free jika kita belum mampu pakai yg license dan harganya nggak terjangkau.

    Edo beberapa hari yg lalu juga sudah posting beberapa software yg free.

    Ada free software yg 2D semacam autocad ada juga yg 3D…
    Ya memang kualitas ndak bisa 100 % sama :)

  • Dadan

    Wah, betul sekali, memang kita mesti menghargai Hak Atas Kekayaan Intelektual orang lain. Supaya hasil karya intelektual kita juga bisa di hargai orang lain sebagaimana mestinya… jadi pembajakan dan penggunaan barang bajakan dengan alasan apapun tidak dapat dibenarkan.
    Atau mungkin alternatif lainnya kita pakai versi trial atau demo saja untuk belajar…
    Bravo CAD Indonesia…

  • http://tentangcad.com Edo

    Sebetulnya ada versi education. Versi education ini free, dan tidak bisa buat mroyek. Jadi alasan harga mahal, trus gak bisa belajar rasanya gak relevan juga. Saya ingat kampus saya dulu punya SAP90 versi education yg free. Hanya DOF-nya dibatasi. Saya tahu beberapa software CAD juga punya versi edukasi itu.
    Untuk kepentingan lain saya gak ikutan komentar deh :)

  • Heru

    Saya setuju banget dengan Ir.Susilobroto, berhubung saya ini rakyat ekonomi sulit yang mencari sesuap nasi dengan bekerja sebagai drafter. Kenyataannya, software free atau education itu banyak yg mentok, dibatasi.
    Kenapa aturannya gak diterapkan untuk perusahaan atau kantor saja, sedangkan yang rumahan boleh menggunakan bajakannya. Pikirin dong, kita-kita ini beli bajakan untuk cari sesuap nasi, sedangkan pembuat software ribut-ribut lisensi untuk membeli kapal pesiar.
    Versi educationnya aja nyarinya susah, adanya di kampus-kampus, padahal drafter kan lulusan STM.

  • Dadan

    Iya juga sih, mungkin pembuat software perlu mempromosikan yang versi education ini, yah.. itung-itung CSR atau Community Development aja…. soalnya kalo untuk jadi drafter mesti investasi beli lisensi ya agak repot. Iya kebanyakan drafter juga hanya SLTA dan dapat kerjanya kontrak ….. per proyek, terus ga naek2 pangkat lagi, he he.. itu cuman pendapat saya aja loh

  • http://tentangcad.com Edo

    Drafter ya gak perlu beli license. Yang beli perusahaannya lah. Mana ada drafter kerja bawa komputer ama license sendiri.
    Kalau saya pikir gini, mereka gak pernah maksa kita buat beli softwarenya kan? Jaman dulu arsitek presentasi coret-coret diatas lap serbet, sambil makan malam aja bisa. Drafter nggambar pake mesin gambar bisa. Gak perlu beli software, tetep bisa kerja kok.
    Dulu orang gak pernah teriak-teriak protes harus beli meja dan mesin gambar. Padahal harga meja gambar dengan software CAD gak jauh beda (2d only). Dan jauh lebih lambat.
    Saya sih gak mempermasalahkan mau pake bajakan apa enggak, dan saya gak berhak. Tapi ada baiknya yang keberatan beli software original mulai mencari alternatif software gratisan. Banyak kok. Saya sendiri mulai melakukannya untuk keperluan pribadi, jadi kalau penegakan hukum dah benar2 ketat, saya dah siap. Misalnya, beberapa freeware yang saya ulas di http://www.tentangit.com.
    Memang repot, memang lebih susah. Kadang banyak iklannya. Namanya juga gratisan :)

  • Dadan

    Wah, pejelasan Mas Edo sangat bijaksana… Makasih mas, saya jadi malu nih, saya kebanyakan posting comment nih… maafin saya ya mas..

  • http://tentangcad.com Edo

    To: Dadan,
    Gpp :) Bagus kalau ada diskusi, yang penting kan di sini kita nyoba nyari solusinya…
    Oh ya, utk software education, setau saya gak harus kampus yang minta kok. Ada SMK yang bisa dapat versi education utk CAD. Untuk software free, silahkan tanya sama ‘abah’ Google.

  • JonyGudel

    Saya kira pendapat Susilobroto dan “amanat rakyat” dari Heru masuk akal. Mungkin sudah waktunya kita-kita ini yang bantu mereka. jangan egois cuma membela lisensi mentang-mentang mampu tanpa perhatikan keadaan masyarakat yang lain yang benar-benar butuh. Saya juga sebelum memiliki yang berlisensi, sudah beberapa kali (bahkan berkali-kali) mencoba yang free atau education. Tapi nyatanya sangat terbatas, apalagi yang free hanya “omong doang” untuk numpang iklan. Memang benar kalau kantor yang beli lisensi, bukan mereka. Tapi untuk belajarnya ? Terus, apa boleh di kantor kita menawar menggunakan mesin gambar ? Apakah melamar kerja boleh tawar-tawaran seperti itu ? Apakah diterima kerja dulu baru belajar CAD ?

  • Fredy

    Harga meja gambar dengan software CAD gak jauh beda ? Memangnya beli dimana meja gambarnya mas ? Meja gambar cuma 3 juta udah dapet kok, wong saya juga ngejualin. Itu CAD-nya juga yang versi abad ke berapa bisa dibilang gak jauh beda sama harga mesin gambar ?

  • Herman

    Berarti cuma ada 1 solusi : Autodesk harus melarang semua perusahaan dan kantor menggunakan produk Autocadnya. Karena terus terang saja, banyak dari kita ini yg belajar autocad karena terpaksa. Jadi, ya terpaksa juga beli bajakannya.
    Ini tanggapan saya untuk kalimat mas Edo yg begini : “Kalau saya pikir gini, mereka gak pernah maksa kita buat beli softwarenya kan ?”.
    Siapa yg gak maksa sebenarnya ? Buktinya kita ini pada terpaksa kok belajar Autocad dan otomatis terpaksa beli softwarenya. Nah yg nggak mampu ? (sori, jgn sebut2 lagi software free, omong kosong). Kalau nggak terpaksa, jelas mendingan uangnya buat keperluan lain.

  • http://tentangcad.com Edo

    To Fredy:
    Ada software CAD seharga 400an USD. Gak perlu nunggu berabad-abad, itu versi terbaru. Dibandingkan meja gambar, saya cukup pede untuk bilang software ini jauh lebih produktif. Kalau dibandingkan AutoCAD, terus terang saya gak tau. Software ini jg ada versi Linux, jadi harga Windows gak perlu dihitung. Tinggal PC-nya aja.

    To Herman:
    Software CAD bukan hanya dari Autodesk. Bagi yang kerja di dunia manufaktur, mungkin lebih ‘gaul’ dan tau software CAD lain seperti UG, CATIA, SolidWorks, dll. Di arsitektur sendiri, ada Bentley Architecture, Nemetschek VectorWorks dan AllPlan, ArchiCAD, dll. Yang memilih menggunakan AutoCAD kan kita dan perusahaan kita sendiri :)

    Freeware bukan omong kosong. Saya turut prihatin kalau anda belum pernah merasakan manfaat dari freeware. Contohnya, situs ini sendiri banyak memanfaatkan freeware.
    Hosting saya menggunakan OS LINUX, lebih stabil dan lebih murah. Saya membuat situs ini dengan engine WordPress. Untuk menulis offline, saya menggunakan Zoundry Raven. Untuk meng-capture animasi di beberapa tulisan di situs ini, saya menggunakan AutoScreen Recorder.
    Untuk bidang engineering sendiri, sudah mulai banyak yang menggunakan Google Sketchup Free dan Google Earth. HEC RAS dan software-software lain dari HEC, merupakan salah satu software CAD terbaik yang ada untuk bidang Hidrologi. Semua free.

    Selain freeware, ada juga free service. Kalau anda sering menggunakan internet, saya rasa anda tahu Google Search. Mungkin anda bahkan menemukan situs ini dari Google Search. Dan anda menggunakan email Yahoo! Email Yahoo! bahkan memberikan kapasitas jauh lebih besar dari mail hosting berbayar. Interfacenya juga lebih user friendly dari squirell mail yang umum digunakan hosting berbayar.
    Rasanya gak fair kita bilang freeware (dan juga free services) itu omong kosong hanya gara-gara satu software yang diinginkan harus bayar.

    Buat yang ingin serius berjuang untuk memperoleh software free license, ya silahkan saja. Bagus juga kalau kita punya software alternatif yang free tapi bermutu. Tapi situs ini bukan sarana yang tepat. Bergabung di IGOS (Indonesia Goes Open Source) rasanya lebih bijak. Dengan software open source, kalaupun harus bayar, harganya jauh lebih terjangkau.

    Tapi kalau tuntutannya ‘AutoCAD digratiskan’ (bukan dibuatnya software CAD yang bermutu dan free) rasanya ya gak mungkin…

    Supaya tidak berlarut-larut, saya pikir polemik mengenai licensing saya tutup sampai di sini. Komentar lain mengenai licensing, baik pro ataupun kontra setelah komentar saya ini akan saya hapus.

    Saya toh tidak diuntungkan kalau anda membeli software original (Autodesk ataupun bukan) dan saya juga tidak dirugikan kalau anda memutuskan beli bajakan atau beralih ke freeware. Tapi saya harap ramainya diskusi di posting ini jg menular ke tulisan lain dan forum :)

    • fransis

      Pak Edo, saya tertarik dg Allplan, bs minta info ttg Allplan, ada tutorial ttg Allplan?

      • http://tentangcad.com Edo

        Sayangnya sampai sekarang belum ada :)

  • http://http//belumbuat.com Cayo

    Dear Pak Edo,
    Klo software Allpan apa sudah ada?? berapa harganya?? tanks

  • Arif

    Dear pak Edo,

    pak mau tanya klo software edukasi tapi drawingnya buat dijual, anggaplah jasa drafting ke perusahaan gitu, itu bakal jadi masalah ga? Tk

    • http://cad-notes.com Edwin Prakoso

      Kalau software edukasi Autodesk punya proteksi. Jadi kalau anda menjual gambarnya, tidak saja jadi masalah dengan Autodesk. Tapi juga gambar anda bisa merusak gambar client anda. Bisa diomelin nanti. Lebih baik cari alternatif yg lbh murah atau yg gratis sekalian.

  • Bambang

    Salam kenal pak,
    Pak, kalau beda lisensi Autocad LT dengan 3d itu apa ya? misal, Autocad 2014 3D dengan Autocad 2014 LT harganya sangat jauh berbeda?
    Karena baru-baru ini tempat saya kerja di datangi autodesk, dan ditemukan ada user yang pakai software autodesk bajakan.
    kemudian mereka memberikan penawaran untuk Autodesk 3D, dan harganya hampir 2X LT.
    mohon penjelasannya pak, saya cari-cari di google belum ketemu perbedaanya. dan apakah saya memang harus beli yang 3D ya?