CAD hanyalah tools…

Saya mendapat komentar tentang mahasiswa(i) sekarang yang karena adanya aplikasi CAD jadi kurang memahami konsep skala. Dan sebetulnya, masalahnya tidak hanya itu. Banyak hal-hal yang sekarang tidak lagi bisa dilakukan oleh mahasiswa dan lulusan baru karena sangat bergantung pada software.
Komentar saya begini: CAD dan software lain hanyalah tools. Hanya alat bantu. Sama halnya dengan pensil, meja gambar, dan alat bantu lain.Kalau seorang arsitek diberi selembar kertas dan pensil tidak lagi dapat mengutarakan idenya, itu berarti ada masalah. Saya gunakan bidang arsitektur karena komentar waktu itu tentang arsitektur ya… Kampus seharusnya menjadi tempat menggembleng mahasiswanya untuk dapat mendesain. CAD dapat membantu seorang arsitek untuk menuangkan idenya dengan lebih mudah. Itu saja. Tapi kalau tanpa CAD dia tidak bisa mendesain? Mungkin ia memang sebetulnya tidak bisa mendesain…! Mungkin hanya mengandalkan copy-paste?
Sama halnya dengan jurusan teknik sipil… sebelum ia diperkenalkan dengan software analisis seperti SAP2000, STAADPRO, ETABS, dll… ia diajarkan menghitung secara manual. Tidak seharusnya tanpa software ia tidak lagi bisa bekerja.
Sayangnya, ketergantungan sama aplikasi CAD seperti diamini oleh penyedia lowongan kerja di Indonesia. Cobalah buka info lowongan di harian, website, mailing list, dan sarana lainnya. Untuk arsitek minimal diminta bisa AutoCAD dan 3ds Max. Akhirnya semua mahasiswa dari awal sudah ‘diam-diam’ mempelajari software desain. Itu nilai tambah kan? Keenakan pakai software, akhirnya kebablasan.
Banyak orang yang menuding kerasnya razia terhadap penggunaan software bajakan akan membuat lemahnya kualitas SDM Indonesia. Orang kita bisa bersaing karena mudahnya mempelajari software yang harganya puluhan juta dengan membelinya seharga 15ribu perak saja. Tapi apa iya itu keuntungan? Think again!
Dalam kasus seperti ini justru membuat SDM kita melemah. Sekarang mahasiswa lebih sibuk belajar CAD daripada belajar mendesain. CAD yang harusnya cuma jadi alat bantu justru jadi andalan. Seandainya saja memang tidak ada software bajakan di Indonesia, kampus dapat mengontrol penggunaan software oleh mahasiswa. Mahasiswa bisa dipaksa untuk belajar mendesain secara manual sampai mereka siap. Kampus dapat berkonsentrasi untuk memberikan porsi yang seharusnya: belajar mendesain.
Bagaimanapun… tulisan di atas adalah pendapat saya pribadi. Mungkin ada yang berpendapat berbeda…







  • Ricky Pramudya

    Betul Mas Edo,…kebanyakan mahasiswa di Jurusan Arsitektur selalu mendewakan CAD daripada Design. Saya sendiri Arsitek. Bagi saya AutoCAD itu adalah alat bantu saya dalam merancang, hanya alat bantu. Lebih baik Konsep tentang Perancangan di Pelajari lebih dalam bila ingin menjadi seorang Arsitek. Minimal SPA benar-benar harus tuntas.

  • Hani

    Untuk me”rem”, tim pembimbing Tugas Akhir memutuskan gambar harus dibuat manual untuk tahap Premilinary Design. Untuk pengembangan dan presentasi akhir pakai CAD.
    Repot juga, karena mesin gambar sudah tidak dipakai lagi.

  • Edo

    Untuk mas Ricky,
    Senang mas Ricky sependapat. Kita memang tidak boleh salah kaprah dan mendulukan menguasai CAD daripada kemampuan mendesain. Mudah-mudahan perusahaan2 pengguna tenaga kerja juga sependapat dan tidak melulu mencari desainer yang bisa CAD. Kuliah arsitektur 4-5 tahun… CAD? ikut kursus 3-5 hari juga bisa…

    Untuk ibu Hani,
    Saya malah baru tahu kalau mesin gambar sudah tidak dipakai lagi… Saya kira itu masih termasuk ‘materi wajib’. Mudah2an perguruan tinggi tempat Ibu mengajar dapat menghasilkan mahasiswa(i) yang kualitas desainnya bagus dan unik :) Menguasai CAD, menurut saya tetap merupakan ‘additional value’, bukan nilai utama seorang engineer.

  • Hani

    Terimakasih untuk mas Edo.
    Inputnya menambah semangat, bahwa
    yang paling penting adalah kemampuan
    disain.
    Ternyata hal yang sama juga dijumpai
    di Seni Rupa, jurusan Desain Komunikasi Visual. Dengan adanya template & archive, mahasiswa malas menginovasi bentuk baru.

  • Edo

    Yang perlu kita ingat dari CAD = Computer Aided Design = Desain dengan bantuan komputer. Tentu saja, keunikan desain ada ditangan yang mendesain.
    Saya ingin menyentil sedikit lowongan kerja di berbagai media… junior architect selalu diminta menguasai CAD. Tapi bagi para junior architect, berapa banyak seniornya yang menguasai CAD? Kebanyakan justru tidak menguasainya!
    Desain para senior itu lebih diakui ketimbang kemampuan menguasai aplikasi yang bejibun…
    Menguasai CAD jelas merupakan nilai tambah. Tapi yang utama?

  • http://www.dopifernando.blogspot.com dopi

    minta tutorial yang pake word atau pdf donk,. biar lebih gampang downloadnya,. thanx ya

  • pardey

    kalo menilik lwongan dari perusahaan yg menysaratkan lulusan arsitek harus bisa CAD sih menurut sya perlu dipertanyakan … sdg recruitment tenaga desainer/arsitek atau sekedar juru gambar drafter CAD sebanyak2nya buat uber deadline yg mepet??

  • http://tentangcad.com Edo

    Saya gak tau apa perusahaan2 itu punya sisi pandang yang berbeda… mungkin mereka beranggapan freshman ini bisa jadi drafter sambil mendampingi arsitek senior. Nanti baru dilepas kalau sudah siap.
    Tapi tetap saja, menurut saya sebagai arsitek, yang harus dinilai kan kemampuan desainnya… Siapa yang bisa jamin suatu saat nanti ternyata freshman yg bisa ngedraft ini ternyata gak bisa ngedesain?
    Harusnya dibalik, yang bisa ngedesain, akan lebih gampang belajar software. Bukan kebalik ;)

  • http://erwin4rch.wordpress.com erwin4rch

    Setujuu….
    CAD adalah alat bantu…
    Kebetulan saya juga bahas tuh di situs saya.
    Secara inti sama kok dengan yang Pak Edo sampaikan.
    Salam – Jabat erat :D

  • http://cadesu.multiply.com/ Adesu

    Saya dapet info dari anak saya, bahwa sekarang mata kuliah cad telah di hilangkan pada perguruan tinggi tertentu, sesuai dengan kebijakan bahwa lama pendidikan untuk per semesternya hanya 4 bulan, sehingga pendidikan S1 bisa di tempuh kurang dari 3 tahun, serta jumlah mata kuliah banyak yang di hilangkan termasuk mata kuliah cad.

  • azhari

    Assalamu’alaikum
    Mas Edo saya ini masih sangat pemula belajar autocad. yang saya mw tanyakan, ada gk sih situs yg berisi tentang modul latihan belajar autocad sendiri..??karena saya sangat ingin menguasai autocad. Kebetulan saya ini calon mahasiswa teknik, jadi saya sangat ingin belajar autocad…
    Atas saran yg mas Edo berikan saya ucapkan terima kasih..

    Wassalamu’alaikum

  • http://tentangcad.com Edo

    To Azhari:
    Ada beberapa dalam bahasa lokal, namun kalau mencari yang berurutan seperti modul training atau buku, rasanya tidak ada.
    Lebih baik ikut training, atau belajar sendiri dari buku untuk dasarnya. Setelah itu bisa terus berlatih ke kasus/tugas kampus… dan banyak sharing di forum/milis…
    Rasanya itu langkah2 umum yang sering dilakukan orang yang belajar AutoCAD :)

  • preatorianky

    saya setuju cad adalah tool…desainer harus dapat bekerja baik dengan atau tanpa cad…dimana imajinasi kita tidak dibatasi atau bergantung pada software….setidaknya kita dapat berkreatifitas dari dua sisi baik dng software cad atau manual…bukan maksud kita balik kejaman batu..:-)…hanya untuk alasan praktis dilapangan kita harus dapat menuangkan ide kita dengan cara manual…

  • Bambang Sulaksono

    Apa ada yang bisa bantu info dimana saya bisa peroleh buku manual / buku petunjuk untuk menggunakan software 3D Home Architec?, karena software sdh saya dapatkan tapi “puyeng” bener belajar menggunakan software tsb secara otodidak. Mohon yang berkenan bantu info ke : 021-9486 2406. Sebelum & sesudahnya diucapkan terima kasih. Salam

  • Dadan

    Saya setuju sekali, CAD adalah tool. Kadang2 saya merasa kagum dengan orang-orang yang bisa membuat karya detail engineering desain dengan hanya menggunakan sebatang pinsil dan selembar kertas saja.

    Wassalam

  • ady

    untuk ideal nya sih emang seperti yang rekan rekan posting semua diatas, tapi kenyataannya yang berlaku didunia kerja sekarang gak seperti itu jadi mau gimana lagi kalau kita gak bisa ngikutin arus kita akan kesingkir… banyak yang gak ngerti filosofi drawing dan hanya bisa software (itu pun gak expert) bisa dihargai lebih diperusahaan…cape dehhhh…..

  • Dadan

    Saya mo nambahin comment dikit nih,
    kalo untuk architect atau engineer dengan pendidikan S1 keatas, CAD itu desain dengan bantuan komputer atau . Skil utamanya terletak pada kemampuan desainnya.
    Tapi untuk drafter atau CAD operator yang cuma tamatan S3 (SD, SMP, SMA he he) CAD adalah suatu skill utama yang sangat berguna sebagai pengisi periuk nasi he he, karena tidak bisa mengandalkan Desain, Sekeras apapun belajar Desain secara otodidak dan sepandai apapun mendisain tanpa di imbangi dengan pendidikan formal S1 ke atas, kayaknya desain itu agak sulit untuk memenuhi syarat dan atau diakui secara formal. Belum lagi gak punya sertifikasi dari asosiasi profesi dll, he he
    Dulu mantan bos saya pernah bicara seperti ini loh: “benernya desain CAD operator dan salahnya design engineer, saya pegang salahnya design engineer”

    Tapi itu cuman opini saya aja loh ….. he he

    Wasalam

    Dadan

  • DEDY

    setuju ama bung dadan, yang penting dari arsitek lulusan S1 ke atas itu konsep dan desainnya. baru kemudian di lanjutkan secara detail oleh drafter pake software CAD yang kebanyakan “bajakan”. saya pribadi sebagai mahasiswa arsitektur tk 3 udah jarang mensketsa, jadi biasanya bikin pake Sketch up yang emang lebih praktis. tapi tentu aja tetap berpegang teguh ama konsep.

  • http://www.heritea.co.cc Heri

    Agak kurang sependapat dari opini bapak2/ibu2 sekalian, saya sebagai seorang CAD operator (Drafter) yang cuma tamatan STM tapi karena keterbatasan biaya untuk kuliah, akhirnya kebablasan CAD operator jadi pekerjaan saya. Selama kl. 13 th berkecimpung di dunia proyek nasional dan internasional (dan sekarang jadi TKI), tamatan STM+sertifikat AutoCAD tidak serta merta rendah SDM nya, karena seperti contoh kasus saya yang dapat mendesain pekerjaan2 sipil dengan bantuan AutoCAD, Civil 3D dan sejenis. Apalagi selain punya basic STM, modal bahsa inggris, saya juga selalu bekerja dengan logika, konsep dan methode to the point yang mana lebih dianggap lebih bagus dan cepat tanggap oleh atasan saya daripada rekan2 kerja yang lulusan S1 sekalipun. Kadang kita tidak harus berpegangan kepada tingkat pendidikan tapi juga pada kualitas pekerjaan di lapangan. Terimakasih

  • Pither

    Saya rasa semua sependapat bahwa apapun namanya, software-software itu ada untuk membantu meringankan pekerjaan. Semisal Revit bukan untuk menggantikan sang desainer, tapi untuk membantunya memvisualisasikan idenya, atau Civil 3D membantu insinyur sipil merencanakan jalan, dsb. Sy ingin mengatakan bahwa kita membutuhkan prinsip-prinsip keilmuan untuk dapat menggunakan software-software tersebut.
    Saya salut kepada Mas Heri (tamat STM tahun berapa, Mas?) dengan segala kemampuannya. Tapi sebagai individu yang alhamdulillah bisa mengenyam pendidikan tinggi, saya tanpa maksud menggurui juga ingin mengatakan bahwa ada prinsip-prinsip keilmuan yang hanya bisa diperoleh di bangku selevel pendidikan tinggi. Sebagai contoh, menggambar memang diajarkan di STM, tetapi itu tidak akan cukup ketika dihadapkan dengan desain jalan, ada banyak patron-patron rekayasa sipil yang harus diperhatikan, sebutlah geometrik jalan, tebal lapis perkerasan, tarikan dan bangkitan lalu lintas, dan sebagainya…. :(
    Bukankah Software-Hardware-Brainware adalah 3 komponen yang tidak bisa terpisah?

  • FIKRI

    kurang setuju..justru karena adanya cad, orng yg bukan dari tamatan stm atau jurusan arsitek bisa dengan mudah mendesign sesuatu,,,,

  • http://antowi.com antowi

    Setuju CAD hanya sangat dibutuhkan oleh level seperti saya Draftman lulusan STM. Saya pernah bekerja dengan seorang engineer tapi justru saya yang “mengajari” beberapa design dia yang nggak masuk akal. Kenapa saya bisa bilang nggak masuk akal? karena setelah saya “tuangkan” dalam gambar memang nggak bisa di kerjakan.