Bag. 7 – Menggunakan Revolve pada Origin Plane

workplane
Anda mungkin masih belum begitu merasakan keuntungan dari meletakkan bagian tengah model anda pada titik 0,0. Sekarang saja akan coba explore lebih jauh. Perhatikan bahwa XY plane saya ada di tengah-tengah silinder, sementara YZ Plane saya tidak. Apa yang terjadi jika saya membuat revolve feature dengan YZ plane?

Saya akan memperoleh posisi revolve yang salah! Revolve saya sama sekali tidak di tengah silinder. Bayangkan bagaimana repotnya jika saya menggambarkan part saya pada posisi asal-asalan. Tentu, saya dapat membuat workplane di tengah-tengah silinder (lebih jauh tentang ini kelak). Tapi dengan menggunakan origin, tentu dapat meminimalkan jumlah workplane. Dan lebih efisien.


Anda dapat mencoba membuat revolve pada YZ plane belakangan. Sekarang kita akan mencoba membuat revolve pada XY plane yang ada di tengah-tengah silinder.

Buatlah sketch pada plane XY, dan tekan [F7] untuk menyembunyikan sebagian part yang menutupi sketch. Langkah yang dilakukan sama persis dengan tutorial sebelumnya. Lakukan hal yang sama, sampai anda selesai memproyeksikan bagian atas silinder.

Aktifkan line, dan aktifkan centerline pada toolbar.

Buatlah line di tengah-tengah silinder. Proyeksikan permukaan silinder jika perlu!
Buatlah circle di atas permukaan silinder untuk cut feature.


Setelah selesai, klik return pada toolbar.

Sekerang aktifkan revolve dari panel bar. Secara otomatis Inventor akan memilih centerline tersebut sebagai axis. Dan karena hanya ada satu profil tertutup, Inventor akan otomatis memilihnya juga. Ubahlah feature menjadi cut. Klik OK.


OK, mungkin ada yang protes bahwa tidak ada desain part seperti ini :)
Saya tidak ingin mengulangi membuat part dari awal hanya untuk membahas satu feature saja (dasar pemalas :p).

Bag. 6 – Menggunakan Origin sebagai Workplane

origin+plane
Sesudah cukup lama membahas Revit, sekarang saya akan coba kembali lengkapi tutorial Inventor. Mudah-mudahan file latihan sebelumnya masih di simpan, karena kita akan teruskan mengembangkan part tersebut.

Di tutorial tentang constraint, saya menyinggung tentang mengusahakan part ada di tengah-tengah titik 0,0. Kita akan lihat kenapa.

Selama ini kita telah membuat sketch dengan memanfaatkan face dari part untuk workplane. Workplane atau bidang kerja adalah bidang tempat kita membuat sketch. Jika anda menguasai AutoCAD 3D, tentu anda ingat bagaimana anda hanya bisa menggambar di bidang XY. Anda harus memutar-mutar UCS agar dapat menggambar pada orientasi yang berbeda.

Tidak jauh berbeda dengan AutoCAD, saat anda memilih face untuk menggambar sketch pun, anda sebetulnya melakukan hal yang sama dengan memutar UCS. Namun tentu, lebih mudah. Yang jadi pertanyaan sekarang, bagaimana kalau kita perlu membuat sketch di luar face?

Perhatikan pada browser bar. Klik tanda (+) di sebelah origin. Cobalah gerakkan pointer di atas plane yang ada. Perhatikan bahwa pada drawing anda akan melihat plane tersebut. Secara default, saat anda membuat part, Inventor akan langsung membuat sketch pada XY plane. Itulah yang pertama anda lihat saat membuat part baru.


Klik kanan pada XY plane, pilih new sketch. Tekan [F7] untuk menyembunyikan bagian part yang menutupi sketch.


Tekan [page up] untuk mengaktifkan lookup. Dan klik XY plane pada browser.

Aktifkan project geometry. Saat anda bekerja dengan menggunakan face sebagai workplane, Inventor akan langsung memproyeksikan face itu ke sketch. Namun kali ini kita menggunakan XY Plane. Jadi harus diproyeksikan manual.

Klik pada bagian atas silinder seperti gambar berikut. Anda akan melihat garis proyeksi berwarna hijau.

Selanjutnya buatlah rectangle seperti gambar berikut. Ingatlah bahwa rectangle itu ditengah-tengah silinder. Gunakan constraint!


Klik return pada toobar Inventor untuk mengakhiri sketch. Aktifkan extrude. Extrude dengan ketebalan 90 mm ke kedua arah.


Perhatikan bahwa kita memperoleh bentuk yang salah. Seharusnya kita membuat extrusion ini terlebih dahulu sebelum melubanginya. Sehingga extrusion ini juga dilubangi.

Jangan khawatir. Kita tidak perlu mengedit sejauh itu. Klik dan drag extrusion ini sampai ke atas extrusion yang membentuk hole.


Perhatikan sekarang extrusion anda sudah diatur ulang posisinya. Dan tentunya part kita telah menjadi benar.

Mengganti Urutan Numbering

renumber

Jika anda sering membuat teks berisikan nomer yang berurutan, hal yang paling bikin repot adalah kalau kita harus mengurutkan ulang penomeran tersebut. Mengedit teks satu-persatu tentu memakan waktu.

Bagi anda yang menguasai pembuatan VBA di AutoCAD dapat mencoba untuk meng-compile sendiri kode VBA ini. Sangat berguna, dan bisa digunakan untuk text, multiline text, dan block.

Jika anda kesulitan, dapat mendownload file dvb ini yang sudah saya compile. Dapat di-load dengan command VBALOAD. Setelah diload dapat di-run dengan VBARUN.

Saat anda meloadnya, anda mungkin akan melihat peringatan VBA ini memuat macro, jangan khawatir, enable saja macro tersebut.

Salam dari Rama buat semua pengunjung Semua tentang CAD :)
Selamat menikmati long weekend!

Kenapa Menggunakan BIM?

Anda mungkin sudah pernah menggunakan ArchiCAD, atau mungkin Revit. Keduanya termasuk aplikasi Building Information Modelling alias BIM. Sebetulnya aplikasi BIM tidak hanya dua itu. Masih banyak aplikasi BIM yang ada. Namun rasanya yang paling populer di Indonesia adalah dua software itu. Masih ada Bentley Architecture, Nemetschek VectorWorks, dan juga software-software modeling struktur dan MEP.Kenapa menggunakan BIM? Mungkin anda pernah dengar bahwa di software BIM anda dapat membuat denah secara 2D, dan langsung memperoleh model 3D-nya. Untuk section juga tinggal mendefenisikan garis section, dan section akan diperoleh secara otomatis. Atau kalau di BIM, anda dapat memperoleh schedule secara otomatis. Tidak ada yang salah dengan pernyataan itu. Namun BIM tidak berhenti di sana!

Saya sering mendengar keluhan pengguna AutoCAD yang sudah mapan. Mereka beranggapan sulit menggunakan Revit untuk memperoleh gambar yang sering mereka buat. Saya tidak bermaksud menyalahkan anggapan seperti itu. Meskipun aplikasi BIM sebetulnya bisa saja membuat gambar seperti yang mereka buat, tapi aplikasi BIM tidak melulu soal gambar. Tentu saja, sebagai aplikasi BIM, kalau dibandingkan dengan aplikasi khusus drafting seperti AutoCAD… tidak fair. Bukan apple-to-apple comparison, bahasa kerennya. Bagi perorangan, BIM mungkin bukan hal yang menarik. Terutama yang sudah masuk ke comfort zone dengan aplikasi CAD yang digunakan sekarang. Tapi bagi engineering company yang meng-handle desain multi-disiplin, BIM sangat penting.

BIM berarti membuat model digital dari suatu bangunan, sehingga dapat mempelajari bangunan tersebut, tanpa harus benar-benar membangunnya lebih dulu. Model yang dihasilkan oleh aplikasi BIM dapat dianalisis secara detail. Drawing hanya salah satu bagian dari BIM.

Yang umum mungkin menganalisis struktur bangunan tersebut. Di masa lalu, analisis struktur bangunan harus dimodelkan ulang di aplikasi analisis seperti SAP, STAAD, ETABS, atau lainnya. Saya pernah mencoba menggunakan Revit Structure yang dikoneksikan dengan Robot Millenium. Sangat impresif. Model tersebut, termasuk properti struktur seperti kolom, balok, dsb, langsung dianalisis oleh Robot Millenium. Jika ada properti yang harus diubah, seperti ukuran kolom yang kurang besar, Perubahan model struktur juga akan mengubah model di Revit. Revit punya beberapa partner yang dapat melakukan hal yang sama, lengkapnya dapat di lihat di sini.
Hal serupa pernah saya lihat dari Bentley structure ke STAADPRO. Bentley Building Solution termasuk komplit sebenarnya, namun sayangnya tidak terlalu berkembang di Indonesia. Jika ingin melihat solusi yang ditawarkan oleh Bentley, bisa lihat di sini.

Solar study juga salah satu studi yang bisa dilakukan. Kita dapat melihat bagaimana pengaruh cahaya matahari pada interior bangunan. Lebih jauh, anda dapat melakukan analisis green building dengan software khusus. Seperti dari Green Building Studio, Inc. dan IES Virtual Environment. Heat load calculation, kebutuhan pendingin dan pemanas ruangan, kebutuhan lighting, dan sebagainya dapat dianalisis. Desain green building mungkin belum terlalu mencuat di Indonesia, tapi sudah sangat populer di negara maju.

Lainnya? Facilities management, visual time schedule, membuat maket dengan printer, dan mungkin hal-hal lain yang belum pernah saya temukan. Saya bukan pengguna ArchiCAD, karena itu saya tidak mengulas sama sekali tentang ArchiCAD. Tapi kalau ada rekan yang ingin menambahkan BIM analysis di ArchiCAD, silahkan saja tambahkan.

Aplikasi BIM terus mengembangkan pertukaran data dengan format IFC (Industry Foundation Classes). Belum sempurna memang. Tapi format IFC semakin baik. Suatu saat anda akan bisa membuka model Revit di ArchiCAD atau sebaliknya. Dan akan semakin banyak software analisis untuk model building. Pengembangannya akan semakin agresif karena tidak harus ditujukan untuk software tertentu saja. Di Indonesia BIM memang belum terlalu populer, tapi tidak berarti tidak akan berkembang di Indonesia.

Masa depan sudah ada di sini, hanya saja belum diketahui semua orang!

Bag. 5 – Mengubah parameter part

icon-utag-16x131

Sampai saat ini, anda mungkin telah memahami bagaimana konsep membuat part modeling di Inventor. Pada dasarnya, anda membuat part feature, pertama kali dengan sketch, dan menambahkan part feature lain. Part feature tambahan dapat dibuat dari sketch ataupun dengan placed feature.

Sekarang bagaimana mengedit desain anda?

Mengedit desain bukanlah pekerjaan yang sulit di Inventor. Tidak seperti modeling 3D AutoCAD, parameter parts dapat diubah kapan saja.

Pertama, cobalah perhatikan browser. Klik tanda (+) di sebelah nama part feature untuk mengexpandnya. Gerakkan pointer anda di atas part feature atau sketch. Perhatikan pada drawing area, Inventor akan menunjukkan part feature atau sketch dengan menghighlightnya.

Klik Extrusion2. Klik kanan mouse, dan pilihlah edit feature. Ubahlah tinggi extrusion menjadi 38 mm. Klik OK.


Sekarang cobalah klik kanan sketch3, pilih edit sketch. Anda akan kembali masuk ke mode sketch dan melihat sketch3 kembali. Ubahlah diameter circle menjadi 30mm. Klik return untuk kembali ke part modeling.

Terakhir, klik parameters pada panel bar. Ubahlah parameter thickness yang anda defenisikan di latihan sebelumnya. Ubahlah dari 12 menjadi 10mm. Klik Done. Jika anda memiliki banyak parameter yang akan sering anda ubah, merupakan ide bagus kalau anda memberikan nama pada parameter ini. Nama dimension pun dapat anda ubah.

Anda harus mengklik update pada toolbar untuk menerima perubahan ini.

Sampai saat ini, anda mestinya telah cukup memahami konsep dimension dan geometric constraint :)

Bag. 4 – Menggunakan Constraint pada Feature Tambahan

icon-utag-16x13

Sama di tutorial bag. 1, kita akan menambahkan part feature dengan menggunakan sketch.

Pertama-tama periksalah pada application option. Bukalah melalui menu tools>application options… Pada TAB Sketch, pastikan Autoproject edges for sketch creation and edit. aktif. Aktifkan jika belum. Klik OK.

Klik rotate untuk memutar display anda. Putarlah sampai kira-kira seperti gambar berikut.


Tekan spasi untuk mengganti mode rotate. Klik tanda panah yang arahnya vertikal membelakangi anda (warna merah pada gambar berikut). Posisi isometric akan dikoreksi sedikit.

Klik kanan, pilihlah Redefine Isometric. Dengan demikian, setiap kali anda menekan [F6], Inventor akan memutar ke view ini.

Klik sketch, dan pilih face berikut. Tekan [Page Up], dan pilih face yang sama.


Buatlah circle dengan diameter 70 mm seperti berikut. Gunakan dimension untuk mengubah ukurannya. Jangan pikirkan posisi persisnya terlebih dahulu.


Perhatikan bahwa ada line berbentuk rectangle dengan warna hijau. Line ini adalah projection dari face yang kita pilih.

Aktifkan constraint vertical, dan klik center dari circle, dan midpoint dari garis horizontal. Ini akan meletakkan circle ditengah-tengah secara horizontal. Lakukan hal yang sama untuk meletakkannya ditengah-tengah secara vertical. Gunakan constraint horizontal.


Klik Return untuk mengakhiri sketch. Tekan [F6] untuk melihat isometric.

Aktifkan extrude. Karena sketch memiliki beberapa bentuk tertutup, anda harus memilihnya. Gerakkan pointer ke dalam lingkaran tersebut, Inventor akan menunjukkan area yang dipilih dengan warna merah. Berikan tinggi extrusion 50 mm.

Buatlah extrusion ke dua arah. Klik OK.

Aktifkan sketch, pilihlah face silinder yang baru anda buat untuk bidang kerjanya. Buatlah lingkaran konsentrik dengan silinder tersebut. Pilihlah center dari lingkaran hijau yang ada sebagai center lingkaran anda. Inventor akan otomatis memberikan constraint concentric. Berikan diameter 25 mm. Extrude dengan ketinggian 8mm.

Ubahlah pilihan extrusion menjadi cut untuk memotong solid yang ada. Perhatikan dialog dan preview di bawah.


Putarlah view sampai anda dapat melihat face silinder di bagian bawahnya. Buat kembali sketch circle yang concentric. Buat dengan diameter 50 mm. Extrude dengan tinggi 32 mm.

Perhatikan bahwa anda hampir selalu bekerja dengan sketch untuk membuat part feature. Sketch dan constraint sangat vital

Sekarang kita akan mencoba menambahkan placed feature berupa fillet. Aktifkan fillet, ubah radius menjadi 25 mm. Pilihlah keempat sudut part ini.

Yang Terlupakan di dimangular

dim

Ini sebuah contoh kasus yang ditanyakan oleh seorang rekan.

“Bisa gak saya buat dimension seperti ini?”Waktu saya coba, memang angular dimension yang didefenisikan dengan memilih dua garis cenderung mengambil sudut terkecil.


Satu hal yang sering dilupakan dalam menggunakan AutoCAD: selalu perhatikan Command Line! Saya sendiri sempat mencari-cari sampai akhirnya ingat untuk mengurutkan pilihan yang tersedia di Command Line. Ada satu pilihan yang sebelumnya juga tidak pernah saya gunakan: specify vertex!

Select arc, circle, line, or :

Tekan [enter] untuk menerima specify vertex. Lalu pilihlah titik pertemuan kedua garis sebagai angle vertex, dan kedua end point lain sebagai angle endpoint.

vertex

Bag. 3 – Menggunakan Constraint

01+-+point
Di Inventor, dapat membuat sketch merupakan hal yang vital. Seluruh part diawali dengan sketch. Dari sketch awal, anda akan membuat part feature seperti extrude, revolve, loft, dan sebagainya. Kemudian anda menambahkan lagi sketch untuk menambahkan part feature dengan dasar part feature sebelumnya.

Meskipun part dapat dilengkapi dengan feature yang tidak membutuhkan sketch (dikenal sebagai placed feature), sketch hampir selalu mendominasi part. Yang termasuk dengan placed feature adalah chamfer, fillet, shell, dan beberapa feature lain.

Dalam membuat sketch, hal terpenting yang harus anda kuasai adalah geometric constraint dan dimension constraint.

Sekarang kita akan mencoba membuat part baru, dan mengaplikasikan constraint. Buatlah part baru dengan mengakses menu file>new. Dari TAB Metric, pilihlah template standard (mm).ipt. Klik OK. Anda akan langsung otomatis masuk ke mode sketch.

Langkah pertama, buatlah point pada titik 0,0. Gerakkan pointer kira-kira ditengah-tengah layar. Seharusnya di titik 0,0 pointer akan snap (lengket) di titik itu. Jika anda tidak yakin, gunakan precise input, dan ketik 0 pada masing-masing field X dan Y.
Agar posisi point tidak berubah saat memberikan constraint, berikan constraint fix.

Buatlah sketch seperti ini. Jangan pedulikan dulu ukuran dan posisinya. Usahakan saat anda membuat garis yang saling tegak lurus dan saling sejajar, automatic constraint muncul sebelum anda mengklik di gambar. Sehingga anda tidak perlu lagi memberikan constraint ini kemudian.


Klik parameters dari panel bar. Anda akan melihat tabel parameter. Klik Add pada bagian bawah dialog parameters. Berikan nama thickness. Pada kolom equation, berikan ukuran 12. Klik Done.


Sekarang berikan dimensi pada sisi paling pendek. Pilihlah sisi tersebut. Untuk memperoleh dimensi yang paralel dengan sisi tersebut, klik kanan dan pilih aligned.Letakkan dimensi tersebut. Klik sekali lagi untuk mengganti nilai dimensi tersebut. Pada field edit dimension, ketikkan thickness. Pastikan anda mengetikkan persis sama dengan pada parameters dialog. Karena sifatnya case sensitive, huruf besar-kecilnya harus sama persis. Klik tanda check untuk menerima perubahan ini.


Lakukan hal yang sama pada ketiga bagian ini.


Sekarang buatlah dimensi pada sisi-sisi lainnya berikut, dan berikan ukurannya.


Terakhir, tambahkan dimensi sudut antara sisi yang miring berikut. Di Inventor, anda tetap menggunakan general dimension untuk membuat angular dimension. Berikan sudut 135. Sebelum Anda menerima hasilnya, perhatikan pada judul edit dimension. Anda akan melihat nama dimensi itu, pada contoh ini d12. Ingatlah nama dimensi itu.


Berikan dimensi lagi pada sisi miring lainnya. Edit dimensinya, ketikkan d12 (sesuai nama dimensi anda). Klik tanda check. Sekarang ukuran sketch anda telah lengkap.

Terakhir, kita akan menguncinya pada titik 0,0. Aktifkan constraint coincident. Klik midpoint sisi horizontal bagian atas, lalu point yang telah anda buat sebelumnya.

Memposisikan bagian tengah dari part anda di titik 0,0 akan menyederhanakan proses desain selanjutnya. Kita akan lihat kenapa.

Klik return untuk mengakhiri sketch. Tekan [F6] untuk melihat isometricnya.

Dari panel bar, aktifkan extrude. Karena hanya ada satu sketch tertutup, Inventor akan langsung memilihnya. Berikan ketebalan extrusion 90 mm. Dan arah extent ke dua sisi. Klik OK.

Simpanlah file ini. Anda akan menggunakannya di latihan selanjutnya.

Bag. 2 – Mengenal Geometric dan Dimension Constraint

geometric+constraint
Pada bagian pertama tutorial Inventor, anda telah membuat sketch dengan menggunakan sistem koordinat global dan koordinat relative. Dan di bagian akhir, anda membuat sketch dengan menggunakan dimension constraint.

Geometric dan dimension constraint merupakan hal yang sangat vital dalam mendesain parts. Anda akan lihat bahwa menggunakan constraint jauh lebih powerful dan lebih mudah daripada menggunakan precise input.

Geometric constraint dapat diberikan pada geometri yang sudah ada, atau pada saat membuat geometri. Cobalah anda membuat sketch sembarang dengan lines, pada posisi tertentu ada simbol horizontal, paralel, concentric, perpendicular, paralel, atau mungkin simbol constraint lainnya.

Jika anda membuat geometri saat simbol ini muncul, constraint secara otomatis diberikan pada geometri tersebut.

Apa itu constraint, akan kita coba lihat pada ilustrasi berikut.

Berikut adalah sebuah line yang sama sekali tidak memiliki constraint. Perhatikan apa yang terjadi saat grip pada end point didrag.


Sekarang pada geometri ini ditambahkan constraint vertical.


Aktifkan constraint vertical, dan pilih line yang dibuat sebelumnya. Garis tersebut akan segera berubah menjadi garis vertikal. Kali ini kita akan coba kembali mendrag gripnya.


Perhatikan bahwa constraint akan mempertahankan bentuk garis menjadi selalu vertikal. Hal ini juga berlaku untuk constraint lainnya.

Constraint perpendicular akan mempertahankan dua garis selalu saling tegak lurus. Constraint parallel akan selalu mempertahankan dua garis parallel selalu saling sejajar.

Dimension juga merupakan constraint, namun yang dipertahankan oleh dimension adalah panjang/jarak dan sudut geometri.

Bentuk geometri ini masih bisa berubah. Jika anda perhatikan pada bagian kanan status bar, ada keterangan ‘3 dimensions needed’. Jika anda telah memberikan constraint sehingga seluruh bentuk geometri tidak lagi dapat berubah, pada status bar tersebut akan tertulis ‘fully constraint’.

Untuk lebih jelasnya fungsi masing-masing constraint, cobalah baca help file tentang ini. Di bagian selanjutnya saya akan coba membahasnya dengan studi kasus.

Membuat Gambar Sketch dengan AutoCAD

sketch+-+denah

Dua minggu ini saya tidak sempat mengupdate artikel di blog ini. Ada alasan yang bagus untuk itu! Lahirnya Edo Junior! Rama Wira Prakoso, demikian kami memberikan namanya, membuat saya tidak bisa berkonsentrasi pada hal lain :)

Di artikel ini saya akan membahas sedikit tentang AutoCAD. Saya suka melihat gambar sketch tangan. Seringkali saya merasa, kalau bisa gambar sketch tangan, saya lebih suka membuat konseptual dengan sketch ketimbang dengan komputer.

Sekarang kita bisa membuat efek sketch di AutoCAD. Baik gambar 2D ataupun 3D seperti gambar berikut.


Caranya cukup sederhana. Bukalah pallete Visual Styles dengan mengakses menu tools> palletes> visual styles.

Di pallete tersebut, di bagian edge modifiers, aktifkan overhanging edges dan jitter edges. Lalu ganti overhang dan jitter sampai anda merasa cukup puas.